News

Fomo dan jajanan kekinian: ketika lidah diatur oleh media sosial
FOMO DAN JAJANAN KEKINIAN: KETIKA LIDAH DIATUR OLEH MEDIA SOSIAL

Hubungan Erat FOMO dan Industri Kuliner

FOMO adalah kecemasan sosial ketika seseorang merasa orang lain sedang mengalami hal menyenangkan yang tidak ia rasakan. Dalam dunia kuliner, perasaan ini dimanfaatkan dengan sangat cerdik oleh para pelaku usaha.

 

Jajanan kekinian—mulai dari es krim sereal, cromboloni, matcha latte dengan racikan khusus, hingga camilan pedas level ekstrem—bukan sekadar produk konsumsi, melainkan sebuah tiket keanggotaan sosial. Ketika sebuah makanan mulai memenuhi lini masa Instagram, TikTok, atau X, muncul dorongan psikologis: \"Kalau aku tidak mencobanya sekarang, aku akan ketinggalan obrolan.\"

 

Prinsip Kelangkaan (Scarcity): Banyak gerai jajanan kekinian sengaja menerapkan sistem limited edition (edisi terbatas) atau kuota harian. Strategi ini memicu kepanikan massal (FOMO) yang membuat konsumen merasa harus membelinya hari ini juga sebelum kehabisan.

 

 

Anatomi Jajanan Kekinian yang Memicu FOMO

Tidak semua makanan bisa mendadak viral. Ada formula khusus yang membuat sebuah jajanan kekinian sukses memicu rasa penasaran netizen:

1. Sangat Estetik (Instagrammable): Warna yang mencolok, lelehan saus yang menggugah selera saat dipotong (food porn), atau kemasan yang unik. Makanan tersebut harus terlihat bagus saat difoto atau direkam.

2. Efek Kejuitan (Gimmick): Proses penyajian yang interaktif, seperti membakar keju dengan torch di depan konsumen atau menuangkan saus dari wadah khusus.

3. Ulasan Masif dari Influencer: Ketika belasan food vlogger favorit Anda mengatakan hal yang sama dalam minggu yang sama, benteng pertahanan dompet Anda biasanya akan runtuh.

 

Dampak Nyata: Dari Dompet hingga Kesehatan

Mengejar tren jajanan kekinian sebenarnya sah-sah saja sebagai hiburan. Namun, jika dorongan utamanya selalu karena FOMO, ada beberapa dampak negatif yang perlu diwaspadai:

  1. Pemborosan Finansial: Jajanan kekinian sering kali dibanderol dengan harga yang relatif mahal untuk ukuran porsinya. Membelinya hanya demi konten sering kali berakhir pada penyesalan finansial.

  2. Masalah Kesehatan: Sebagian besar jajanan kekinian tinggi akan gula, garam, dan lemak jenuh (seperti boba, keju berlebih, atau gorengan tepung). Mengonsumsinya terlalu sering demi ego sosial bisa memicu obesitas hingga diabetes di usia muda.

  3. Fenomena \"Viral Sesaat\": Banyak bisnis jajanan kekinian yang hanya bertahan beberapa bulan. Begitu rasa penasaran publik terpenuhi dan tren berpindah, gerai yang tadinya mengantre ular bisa langsung sepi dan gulung tikar.

 

Cara Bijak Menghadapi Tren Kuliner

Agar tidak terjebak dalam lingkaran setan FOMO kuliner, kita perlu melatih JOMO (Joy of Missing Out)—alias merasa biasa saja dan bahagia meskipun tidak mengikuti tren.

Sebelum mengantre jajanan yang sedang viral, tanyakan pada diri sendiri: \"Apakah aku benar-benar lapar dan menginginkan makanan ini karena rasanya, atau aku hanya ingin memajangnya di Instagram Story?\" Jadilah konsumen yang cerdas. Menikmati kuliner sejati adalah soal rasa yang tertinggal di lidah, bukan jumlah likes yang mampir di layar ponsel Anda.